Permainan Olahraga Anak di Rumah untuk Dukung Tumbuh Kembang
Permainan olahraga penting untuk melatih kemampuan motorik dan menstimulasi kognitif anak. Ajak si Kecil bermain selama 60 menit sehari, dibagi menjadi 2 sesi.
Permainan olahraga bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh dan melatih keterampilan motorik anak. Aktivitas ini ternyata juga mengasah keterampilan sosio-emosionalnya, lho! Simak manfaatnya di sini!
Kenapa Anak Perlu Permainan Olahraga Sejak Dini?
Olahraga perlu diperkenalkan sejak dini untuk mencegah terlalu lama main gadget atau keasyikan nonton TV. Screen time berlebih membuat energi tak tersalurkan sehingga cepat bosan dan tak fokus.
Permainan olahraga penting untuk menyalurkan energi, melatih motorik, meningkatkan konsentrasi dan kualitas tidur, serta mengasah kedisiplinan, sportivitas, dan kemampuan sosial.
Anak yang rutin beraktivitas fisik bisa belajar dengan lebih efektif dan lebih percaya diri saat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Seberapa Sering Anak Perlu Aktivitas Fisik?
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan, anak usia dua tahun ke atas perlu aktivitas fisik setidaknya selama 60 menit. Durasi ini bisa dibagi ke beberapa sesi bermain agar anak tidak kelelahan.
Misalnya, waktu bermain dua kali sehari dengan durasi per 30 menit atau empat kali dengan periode 15 menit dalam sehari.
Baca Juga: 10 Mainan Edukasi untuk Anak Usia 5 Tahun
Permainan Olahraga Anak yang Mudah dan Seru Dimainkan
Ada beberapa ide menarik agar Ibu dapat menciptakan suasana olahraga yang seru dan edukatif untuk si Kecil. Permainan ini bahkan bisa dilakukan di rumah, lho! Apa sajakah itu?
1. Halang Rintang (Obstacle Course)
Permainan ini bisa untuk anak 2 tahun dan cocok untuk anak yang aktif dan mudah bosan. Permainan ini penting untuk melatih fokus, memecahkan masalah, dan keseimbangan.
Pertama, coba buat gunung dari tumpukan bantal tebal yang bisa dipanjat si Kecil. Setelah berhasil menaklukkan gunung bantal, sediakan terowongan kardus yang harus dilewati dengan cara merangkak.
Kemudian, buat jembatan dengan menempelkan selotip berwarna secara sejajar melintasi ruang tengah. Si Kecil tidak boleh melewati garis selotip agar bisa selamat menyeberangi jembatan.
Terakhir, buat garis jembatan terputus agak jauh dari sofa sehingga anak perlu melompat untuk mencapai pulau kemenangan.
2. Freeze Dance
Permainan ini cocok untuk anak yang terlalu lama duduk sehingga kurang gerak. Permainan olahraga ini cukup sederhana, hanya perlu menyiapkan pemutar musik seperti smartphone, tablet, atau TV.
Putar lagu favorit anak dan menari bersama! Setiap kali lagu berhenti, siapa pun yang ikut bermain harus “membeku” atau diam di tempat.
Dengan melakukan permainan anak ini, si Kecil akan bersenang-senang sambil secara tidak langsung berlatih koordinasi tubuh dan self-regulation alias kontrol diri.
3. Ikuti Sang Kapten!
Ikuti Sang Kapten! cocok untuk anak susah fokus dan melatih mengikuti instruksi. Permainan olahraga ini bisa dimainkan berdua saja bersama si Kecil, tapi semakin banyak peserta, semakin seru.
Caranya, Bapak atau Ibu berdiri di hadapan anak-anak. Minta mereka memperhatikan dan menirukan apa yang Bapak Ibu lakukan, seperti pegang hidung atau lompat satu kaki.
Sebaiknya, pilih latihan kemampuan motorik yang sederhana, tetapi memerlukan gerakan di banyak anggota tubuh, seperti melompat, jalan cepat, berlari, merangkak, atau merentangkan tubuh.
4. Menangkap Bulu Terbang
Permainan olahraga ini cocok untuk anak yang pemalu dan tidak percaya diri saat bermain. Menangkap bulu terbang bisa dimainkan sendiri atau berkelompok, antara 3 sampai 5 anak.
Bapak Ibu perlu menyediakan beberapa bulu lembut. Pilih yang tidak gampang rontok agar tidak terhirup si Kecil. Lalu, minta anak menangkap bulu sebelum ia jatuh menyentuh tanah.
Anak bisa diminta menangkap menggunakan tangan kosong atau menggunakan keranjang kecil. Pada akhir permainan, ajak anak menghitung berapa bulu yang berhasil diselamatkan.
5. Lampu Merah, Lampu Hijau
Permainan olahraga ini merupakan permainan sosial yang mengatur kesabaran anak. Permainan ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok Lampu Merah dan Lampu Hijau.
Untuk memainkan permainan ini, Bapak atau Ibu berdiri di ujung ruangan. Peserta permainan boleh berlari ke arah orang tua setiap kali Bapak Ibu mengatakan, “Lampu hijau!”
Kemudian, saat Bapak Ibu mengatakan, “Lampu merah!” semua pemain harus berhenti berlari. Siapa mencapai tempat orang tua tercepat akan menjadi pemenangnya.
Baca Juga: 10 Pilihan Mainan Edukasi untuk Anak Usia 4 Tahun
6. Berburu Harta Karun
Permainan ini cocok saat anak bosan di rumah dan bisa melatih kemampuan pemecahan masalah. Cobalah sembunyikan mainan atau benda lain di sekitar area rumah.
Setelah itu, berikan petunjuk berupa daftar gambar mainan yang telah disembunyikan. Si Kecil perlu mengeksplorasi rumah untuk menemukan barang-barang yang berada di dalam daftar.
Dengan begitu, si Kecil aktif bergerak mengelilingi area sekitar rumah sehingga ia tidak duduk diam saja. Selalu izin sebelum menyembunyikan mainan anak agar ia tidak mengira mainannya hilang.
7. DIY Bowling
Bila punya banyak botol plastik bekas, gunakan untuk permainan bowling sederhana. Susun beberapa botol bekas, lalu ajak si kecil menggelindingkan bola.
Ajak anak menghitung jumlah pin botol yang berhasil mereka jatuhkan. Permainan olahraga ini penting untuk melatih koordinasi mata dan tangan serta kesadaran gerak tubuh.
Untuk menambah seru permainan, coba ajak cat botol dengan berbagai warna. Selain aktif secara motorik, si Kecil akan belajar mengenal warna.
Baca Juga: Manfaat Belajar Sambil Bermain, dan Tips Aktivitas Seru untuk Anak
Cara Memilih Permainan Olahraga Sesuai Usia Anak
Permainan perlu memperhatikan usia agar sesuai dengan milestone tumbuh kembang. Dengan begitu, permainan bisa memberikan stimulasi yang optimal. Berikut cara memilih permainan sesuai usianya.
1. Usia 1–3 Tahun
Sebaiknya, fokus ke permainan individu karena pada usia ini, anak belum begitu mampu memahami konsep bermain bersama atau berbagi.
Namun, bermain bersama bisa dilakukan dengan parallel play, yaitu anak fokus bermain dengan permainannya masing-masing, tetapi bersama anak lainnya di satu tempat dan waktu yang sama.
Ajaklah permainan olahraga yang fokus pada gerakan dasar, seperti merangkak, berjalan, berlari, dan melompat.
2. Usia 3 Tahun ke Atas
Ketika menginjak usia 3 tahun ke atas, anak sudah mengenal konsep teman dan mulai mengerti konsep berbagi. Jadi, sudah mulai bisa bermain bersama dalam sebuah kelompok.
Anak usia 3 tahun ke atas juga biasanya sudah cukup lancar berkomunikasi sehingga akan lebih mudah bekerja sama dengan teman.
Jadi, coba ajak teman-teman sebayanya untuk bermain bersama atau disebut associative play dan cooperative play. Contoh permainan olahraga, misalnya lempar tangkap bola, petak umpet, berburu harta karun.
Tips agar Anak Konsisten Aktif Bergerak
Permainan olahraga akan memberikan manfaat optimal bila dilakukan secara rutin. Lantas, bagaimana caranya agar anak tetap aktif secara fisik?
1. Buat Aktivitas Jadi Rutinitas
IDAI menyatakan, aktivitas fisik dilakukan sebanyak 60 menit dan bisa dibagi beberapa sesi. Cobalah membuat jadwal bermain untuk anak, misalnya pagi sebelum sekolah dan sore setelah bangun siang.
Jadwal membuat aktivitas menjadi lebih terprediksi sehingga si Kecil lebih familiar dan tidak mudah rewel dengan kegiatan bermain.
2. Ikut Bermain Bersama Anak
Anak akan lebih termotivasi bila permainan dilakukan bersama orang tua. Permainan yang dilakukan bersama-sama akan terasa menyenangkan, bukan jadi paksaan.
Tidak hanya itu, orang tua akan menjadi panutan si Kecil dalam beraktivitas fisik. Bila orang tua rutin beraktivitas fisik atau olahraga, anak pun akan mencontoh orang tuanya.
3. Dukung dengan Asupan Nutrisi Tepat
Nah, selain membiasakan anak beraktivitas fisik secara rutin, Ibu juga perlu memastikan si Kecil mendapatkan asupan gizi yang optimal.
Asupan penting untuk memberi pasokan energi dan merangsang pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak si Kecil.
Agar kebutuhan gizi semakin lengkap, bisa berikan susu pertumbuhan terfortifikasi bila diperlukan.
Bebelac 3 NutriGreat+ adalah Nutrisi Terbaik dari Bebelac yang diperkaya dengan 3 serat penting FOS:GOS dan Inulin, DHA 2x lebih tinggi, dan 0gr sukrosa. Bantu dukung tumbuh kembang optimalnya agar si Kecil tumbuh bersinar dari dalam.
Ingin dapatkan lebih banyak tips dan informasi parenting terbaru menyambut masa prasekolah si Kecil? Yuk, . Ibu juga bisa dapatkan beragam promo dan penawaran menarik seputar susu Bebelac, lho!
