Arti Tangisan Bayi Berdasarkan Jenis Suara dan Cara Menyikapinya
Menangis adalah cara utama bayi untuk berkomunikasi dan memberi tahu bahwa ia lapar, lelah, tidak nyaman, atau butuh perhatian. Bayi normalnya bisa menangis sekitar 2-3 jam sehari.
Arti tangisan bayi bisa berbeda-beda, misalnya karena lapar, tidak nyaman, atau sakit. Agar Ibu tidak lagi bingung dan bisa memberikan respons yang tepat, yuk kenali dan pahami arti tangisan si Kecil!
Bayi Menangis Terus, Apa Artinya dan Harus Bagaimana?
Menangis adalah cara utama bayi berkomunikasi untuk menyampaikan kebutuhannya.
Penyebab tangisan bayi bisa saja karena lapar, mengantuk, popok basah, sakit, bosan, overstimulasi, atau kolik. Jadi, jika bayi menangis, bukan berarti ada sesuatu yang salah.
Biasanya setiap jenis tangisan memiliki pola tertentu. Memahami ciri setiap tangisan bayi akan membantu Ibu dan Bapak agar bisa mengetahui keinginan bayi dan memberikan respons yang tepat.
Macam-Macam Arti Tangisan Bayi & Cara Menanggapinya
Mengetahui berbagai macam arti tangisan bayi akan membantu Ibu mengenali kebutuhan si Kecil. Berikut cara mengenali dan menanggapi tangisan bayi:
1. Tangis Pelan atau Lirih
Tangisan bayi pelan atau lirih biasanya menandakan bayi merasa tidak nyaman ringan, seperti mulai mengantuk, bosan, atau butuh perhatian dan ingin digendong.
Ciri suara tangisan pelan biasanya cenderung bervolume rendah, terdengar seperti merengek, dan bisa meningkat perlahan jika tidak segera direspons.
Pada kondisi ini, bayi umumnya belum benar-benar rewel, tetapi sedang memberi kode awal bahwa ia membutuhkan sesuatu. Jika dibiarkan, tangisan bisa menjadi lebih keras dan sulit ditenangkan.
Ibu dan Bapak bisa merespons dengan mengajak bayi ke suasana yang lebih tenang, menggendongnya, atau berbicara dengan suara lembut.
Baca juga: Penyebab dan Cara Menenangkan Bayi Rewel di Malam Hari
2. Tangisan Bernada Rendah dan Berirama
Arti tangisan bayi bernada rendah dan berirama sering menjadi tanda awal bayi lapar. Dalam kondisi ini, tangisan bayi memang tidak melengking, tapi cenderung berulang dan ada jeda.
Nah, tangisan tersebut biasanya disertai dengan isyarat lapar lain seperti mengepalkan jari tangan, memasukkan tangan ke mulut, mengecap bibir, menyentuh lidahnya ke langit-langit mulut, hingga kepalanya mencari-cari payudara Ibu.
Apabila Ibu melihat isyarat tersebut ketika si Kecil menangis, segera tawarkan ASI, ya. Sebaiknya, jangan menunggu sampai bayi sangat lapar dan tangisan jadi lebih keras.
3. Tangisan Sengau atau Merintih
Tangisan bayi yang terdengar sengau atau merintih bisa menjadi tanda bayi sedang tidak enak badan atau merasa sakit. Suaranya biasanya terdengar seperti keluar dari hidung, lemah, dan tidak sekuat tangisan biasa.
Tangisan sengau tanda sakit ini biasanya sulit dihentikan dan membuat bayi tampak lemas serta kurang aktif. Bayi yang menangis karena sakit biasanya ada masalah di perut bagian bawah, seperti perut bergas.
Segera cek suhu tubuh dan perhatikan kondisi fisik si Kecil ya, Bu. Jika bayi berusia di bawah 3 bulan atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.
4. Tangisan Merengek Panjang dan Terus-Menerus
Tangisan merengek yang berlangsung lama biasanya menandakan bayi kelelahan atau terlalu mengantuk. Ibu bisa mengenali bayi sudah kelelahan bila suara tangisannya tidak terlalu keras, tetapi terdengar terus-menerus.
Sambil menangis, bayi biasanya juga mengucek mata atau menarik telinga tanda mengantuk. Jika tidak segera ditenangkan, bayi bisa menjadi semakin rewel.
Coba tenangkan si Kecil dengan mengurangi stimulasi seperti suara dan cahaya, lalu bantu bayi tidur di ruangan yang tenang dan nyaman.
5. Tangisan Keras Mendadak (Meraung)
Tangisan bayi yang meraung keras secara tiba-tiba menandakan rasa tidak nyaman yang intens, seperti kaget, popok basah, atau posisi tubuh tidak nyaman.
Ciri tangisan ini biasanya bervolume keras, terjadi tiba-tiba, dan bisa berhenti cepat setelah penyebabnya teratasi. Jika Ibu mengenali arti tangisan bayi ini, coba cek popok, suhu ruangan, serta posisi tubuh bayi.
Pastikan si Kecil tidak kepanasan, kedinginan, atau tertekan di bagian tertentu yang membuatnya tidak nyaman.
6. Tangisan Melengking atau Menjerit
Arti tangisan bayi melengking dan sulit ditenangkan sering dikaitkan dengan kolik. Biasanya tangisan muncul pada sore atau malam hari dan berlangsung cukup lama meski sudah digendong.
Ibu dapat menyadari bila bayi terdengar sedih dan gelisah, serta terlihat menekuk dan mengencangkan kaki, mengepalkan tangan, dan melengkungkan punggungnya.
Bantu tenangkan bayi dan buat kondisinya lebih nyaman dengan gendong dengan posisi tegak atau menghadap ke bawah (tummy hold) serta lakukan pijat lembut di punggung.
7. Tangisan Disertai Menghindar dari Suara atau Cahaya
Tangisan bayi sambil memalingkan wajah atau menutup mata bisa menandakan overstimulasi. Artinya, bayi merasa kewalahan karena terlalu banyak cahaya, suara, atau aktivitas di sekitarnya.
Bayi dengan kondisi ini biasanya merengek, gelisah, dan tubuhnya tampak tegang. Ibu bisa bantu buat bayi lebih nyaman dengan menggendong atau membuat suara yang lembut.
Usahakan untuk memindahkannya ke ruangan yang lebih tenang dengan cahaya redup dan kurangi suara serta interaksi sementara agar ia bisa kembali merasa nyaman.
Baca Juga: Mitos dan Fakta Penyebab Bayi Gumoh yang Perlu Ibu Tahu
Apakah Normal Bayi Menangis Setiap Hari?
Ya, normal bagi bayi untuk menangis setiap hari. Menangis adalah cara utama bayi untuk berkomunikasi dan memberi tahu bahwa ia lapar, lelah, tidak nyaman, sakit, atau butuh perhatian.
Pada beberapa bulan pertama kehidupan, bayi bisa menangis selama beberapa jam dalam sehari. Selama bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, dan tidak menunjukkan tanda sakit, tangisan setiap hari masih termasuk wajar.
Berapa Lama Tangisan Bayi Dianggap Wajar?
Bayi baru lahir rata-rata menangis sekitar 2-3 jam dalam sehari, terutama di 6 minggu pertama kehidupannya. Bahkan, kebanyakan bayi cenderung lebih sering menangis atau rewel di sore hingga malam hari.
Selama 3 bulan pertama, bayi memang menangis lebih sering dibandingkan periode usia lainnya. Seiring bertambahnya usia dan kemampuan beradaptasi, durasi serta intensitas tangisan biasanya akan berkurang dengan sendirinya.
Tangisan Bayi yang Perlu Diwaspadai
Ibu Bapak sebaiknya tidak menganggap sepele bila tangisan bayi memiliki ciri-ciri berikut:
- Tangisan melengking terus-menerus.
- Bayi tampak lemas.
- Disertai demam tinggi pada bayi kurang dari usia 3 bulan.
- Tidak mau menyusu sama sekali.
- Susah ditenangkan dan tangisannya tidak seperti biasanya.
Jika tangisan tidak kunjung berhenti dan bayi masih tampak tidak nyaman bahkan disertai gejala lainnya, segera periksakan kondisi si Kecil ke dokter ya, Bu.
Namun, pada dasarnya setiap bayi memiliki karakter dan frekuensi tangisan yang berbeda. Jadi, Ibu tidak bisa secara serta-merta membandingkan tangisan satu bayi dengan bayi yang lain.
Semua bayi unik dengan kepribadian, kondisi tubuh, dan kondisi lingkungan tumbuh masing-masing.
Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, yuk langsung hubungi BebeCare.
Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap menjadi teman berbagi dan sumber informasi terpercaya untuk Ibu, 24 jam gratis tanpa perlu buat janji!
