Anak Muntah: Penyebab, Pertolongan Pertama & Tanda Bahaya
Anak muntah karena infeksi, alergi, keracunan makanan, dan asam lambung bisa ditangani di rumah. Bawa ke dokter jika anak dehidrasi, sakit kepala, atau tak membaik dalam 24 jam.
Penyebab anak muntah bisa macam-macam, tapi biasanya tidak serius. Yuk, perhatikan apa saja kemungkinannya dan bagaimana pertolongan pertamanya di bawah ini.
Anak Muntah, Normal atau Perlu Khawatir?
Anak muntah bisa normal atau berbahaya, tergantung penyebab dan gejala yang menyertainya.
Jika anak muntah 1 sampai 2 kali sehari dan sembuh dalam sehari atau dua hari, tidak disertai gejala lainnya, berarti kasusnya masih tergolong ringan jadi Ibu tak perlu khawatir.
Namun, bila muntahnya lebih dari 3 kali sehari, demam tinggi, sakit kepala, serta muncul tanda dehidrasi yaitu mulut kering dan sangat jarang buang air kecil, bisa jadi penyebabnya serius.
Penyebab Anak Muntah Berdasarkan Situasinya
Perhatikan kondisi si Kecil dan tanda-tanda berikut ini untuk mengenali penyebab muntah dan seberapa serius kasusnya.
1. Anak Muntah setelah Makan
Muntah beberapa saat atau beberapa jam setelah makan bisa disebabkan oleh reaksi alergi, intoleransi makanan, gastroparesis (pencernaan melambat), atau penyakit asam lambung (GERD).
Namun, muntah setelah makan juga bisa disebabkan oleh hal yang sepele seperti anak kebanyakan makan alias kekenyangan.
2. Anak Muntah disertai Diare (Muntaber)
Kalau si Kecil muntah disertai diare, kemungkinan penyebabnya adalah infeksi saluran cerna dan keracunan makanan.
Perhatikan apakah anggota keluarga lain atau teman-teman si Kecil ada yang mengalami gejala serupa, karena biasanya sumbernya adalah makanan yang dikonsumsi.
3. Muntah dan Demam
Demam adalah salah satu tanda terjadinya infeksi. Maka, gejala muntah yang disertai demam bisa menandakan infeksi akibat virus atau bakteri dalam tubuh si Kecil.
Umumnya muntah jadi sinyal bahwa infeksi terjadi di saluran cerna. Namun, dalam kasus yang jarang, infeksi mungkin terjadi di saluran napas, saluran kemih, hingga telinga.
4. Muntah di Malam Hari
Tidak ada satu penyakit khusus yang ditandai muntah di malam hari. Muntah bisa terjadi kapan saja, bahkan beberapa jam atau hari setelah si Kecil terpapar penyebabnya.
Karena itu, kalau si Kecil muntah malam-malam, penyebabnya bisa jadi keracunan atau intoleransi makanan, alergi, radang saluran cerna, hingga penyakit asam lambung.
Namun, kalau muntahnya hanya muncul di malam hari atau saat si Kecil tidur, ada kemungkinan ia kena serangan asma. Gejala lainnya yaitu batuk atau napas berbunyi ‘ngik’.
5. Muntah setelah Minum Susu
Kalau si Kecil mual dan muntah setelah minum susu disertai gejala lain seperti kulitnya gatal atau biduran serta pilek dan batuk-batuk, bisa jadi ia alergi susu.
Alergi susu yang paling umum adalah alergi susu sapi. Reaksi alergi bisa muncul beberapa menit saja habis minum susu sapi, tapi bisa juga munculnya baru 72 jam setelahnya.
6. Muntah Tanpa Gejala Lain
Anak bisa muntah tanpa adanya gejala atau keluhan lain, kemungkinan penyebabnya yaitu:
- Mabuk kendaraan (di mobil, kapal, atau pesawat)
- Pusing karena gerakan tertentu (misalnya habis naik wahana yang berputar)
- Refleks psikologis karena habis melihat atau mencium bau yang mengganggu
Penyebab Medis Anak Muntah yang Perlu Diketahui Orang Tua
Pada dasarnya, muntah bukan penyakit khusus, melainkan hanya gejala. Jadi, anak muntah bisa disebabkan oleh:
1. Infeksi Pencernaan (Muntaber)
Muntaber pada anak paling sering disebabkan infeksi virus seperti rotavirus yang menyebabkan peradangan di saluran cerna.
Selain itu, bakteri seperti Salmonella typhi yang jadi penyebab tipes juga bisa membuat anak muntaber.
Baca Juga: 6 Penyebab Muntaber pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
2. Alergi dan intoleransi makanan
Reaksi alergi biasanya diikuti tanda lain di kulit (gatal, kemerahan, biduran, atau muncul bengkak) serta di sistem pernapasan (sesak atau ada yang menyangkut di tenggorokan).
Sementara itu, intoleransi makanan tidak diikuti gejala lain di luar gangguan saluran cerna seperti mual dan perut begah/kembung.
3. Penyakit asam lambung (GERD)
GERD terjadi ketika otot-otot di bagian bawah kerongkongan anak melemas, sehingga asam lambung (yang harusnya tertahan di lambung) naik ke atas.
Inilah yang menyebabkan sensasi mual, dada sesak dan perih/panas, hingga muntah-muntah.
4. Keracunan makanan
Penyebab utama keracunan makanan adalah kuman yang berkembang biak pada makanan yang sudah kelamaan atau basi.
Gejalanya yang khas yaitu muntah berkali-kali disertai sakit perut dan diare.
5. Radang usus buntu
Radang usus buntu paling sering menyerang anak-anak di usia sekolah dan terjadi akibat penyumbatan di usus yang menyebabkan infeksi.
Biasanya radang usus buntu ditandai oleh sakit yang tajam dan mendadak di sekitar pusar hingga bagian kanan bawah perut, mual, dan muntah.
6. Infeksi serius (ISK, meningitis, dll)
Meski kasusnya jarang, muntah juga bisa menandakan infeksi yang lebih serius seperti infeksi saluran kemih, meningitis (radang selaput otak), atau radang paru (pneumonia).
Jika Ibu butuh saran atau punya pertanyaan seputar kesehatan, tumbuh kembang, dan nutrisi anak, langsung hubungi BebeCare, gratis!
Tim careline kami terdiri dari para ahli berlatar belakang keperawatan dan pendidikan gizi yang siap jadi sumber informasi tepercaya untuk Ibu, terbuka 24 jam tanpa perlu buat janji.
Pertolongan Pertama Anak Muntah yang Aman Dilakukan di Rumah
Karena umumnya tidak berbahaya, Ibu bisa coba berbagai pertolongan pertama berikut agar anak jadi lebih nyaman dan muntahnya mereda.
1. Cara Memberi Minum Tanpa Memicu Muntah
Jangan sampai anak kekurangan cairan, tapi memberi minumnya juga harus hati-hati supaya ia tidak semakin mual dan muntah. Ini tipsnya:
- Berikan air putih atau air elektrolit karena lebih mudah dicerna dibandingkan teh, susu, atau jus.
- Minum sedikit-sedikit saja tapi sering, misalnya satu atau dua seruput tiap 5-15 menit. Minumnya jangan langsung ditenggak.
- Empat hingga delapan jam setelah muntah, tambahkan minumnya secara bertahap.
- Kalau muntah lagi, kurangi minumnya jadi sedikit-sedikit lagi.
2. Kapan Perlu Oralit dan Kapan Tidak
Oralit (CRO) adalah cairan khusus berisi air dan elektrolit untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare.
Menurut IDAI, kalau si Kecil muntah disertai dengan diare, Ibu bisa berikan 5-10 ml oralit setiap habis diare. Namun, bila dehidrasinya sudah parah, anak harus segera dibawa ke dokter.
Baca Juga: 15 Obat Tradisional Mual Muntah pada Anak yang Aman dan Alami
3. Makanan yang Boleh dan Harus Dihindari Setelah Muntah
Kalau masih muntah, tak apa-apa melewatkan makan dulu selama anak masih bisa diisi minum. Ketika muntahnya reda, perlahan berikan makanan lunak seperti bubur atau oatmeal.
Hindari makanan yang berlemak, berminyak, atau tinggi gula seperti gorengan, gulai, atau kue-kue manis.
Baca Juga: 9 Makanan untuk Mengatasi Anak Muntah
4. Biarkan Istirahat
Saat istirahat, pastikan anak tidak berbaring tengkurap dengan perut di bawah. Lebih aman anak tidur menghadap ke atas (telentang) atau ke samping.
Sediakan juga ember atau plastik di dekat anak untuk berjaga-jaga kalau ia tiba-tiba muntah.
Kapan Anak Muntah Harus Segera Dibawa ke Dokter?
Muntah bisa jadi gejala serius pada anak yang perlu penanganan medis segera. Amati tanda-tanda berikut ini:
- Dehidrasi dengan ciri-ciri lemas, mulut kering, dan sangat jarang buang air
- Muntah berwarna kehijauan atau ada darahnya
- Muntah tidak membaik atau berhenti setelah 24 jam
- Muntah disertai sakit kepala, lehernya tegang atau kencang, dan gampang silau kalau melihat cahaya
Demikian ulasan lengkap soal keluhan muntah pada anak. Semoga penjelasannya membantu ya, Bu.
Ibu juga bisa daftar gratis jadi member Bebeclub untuk baca ratusan artikel parenting dan nutrisi anak terlengkap dan terverifikasi ahli.
Dengan jadi member, Ibu juga bisa dapat akses eksklusif ke berbagai fitur monitor kesehatan pencernaan anak, hingga kesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk Bebelac.
